foto: from google
Merebaknya
virus Corona saat ini menjadi suatu Perhatian Global di seluruh belahan dunia
ini. Hampir seluruh dunia kena wabah Corona ini yang tentu saja merugikan
negara lain berbagai sektor di dalam suatu negara tersebut salah satunya ialah
sektor perekonomian sehingga menimbulkan dampak masalah ekonomi yang jelas saja
merugikan negara contohnya negaara Indonesia ini terkait naik nya kurs mata
uang rupiah terhadap dollar dan salah satunya contoh lainnya adalah pembatasan Ekspor-Impor
yang dilakukan oleh Indonesia dan Tiongkok.
Indonesia
bisa dikatakan tergantung dan mempunyai nilai kepentingan pada Tiongkok karena
nilai impor negara Indonesia hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan
ekspor ke negara Tiongkok. Tiongkok bisa dikatakan mitra dagang utama baik
teknologi maupun bahan pangan bagi Indonesia. Seperti yang kita ketahui di
tengah masalah virus Corona yang sudah masuk ke Indonesia tentu saja ada
perubahan serta dampak ekonomi yang ditimbulkan antara Indonesia dan Tiongkok
ini. Dampak yang ditimbulkan masih tergolong minimal akan tetapi yang menjadi
sorotan dan perubahan yang drastis ialah sistem pariwisata Indonesia yang
menyangkut pergerakan orang dengan kata lain manusia lah yang membawa wabah
virus Corona ini, yang seperti kita ketahui bahwa Tiongkok ini merupakan salah
satu penyumbang terbesar wisatawan ke Indonesia dan turis negara lain yang
sudah terpapar virus Corona ini dan menjadi turis langganan bagi Indonesia yang
pastinya sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia terhadap berberapa
sektor yang salah satunya adalah sektor pariwisata.
Kita
tahu bahwa virus Corona ini sangat mempengaruhi perekonomian Tiongkok dan
Indonesia dari berbagai sektor serta hubungan-hubungan perdagangan yang sudah
terjalin sangat lama dapat menimbulkan penghentian kerja sama perdagangan.
Melemahnya perekonomiaan Tiongkok saat ini di khawatirkan permintaan ekspor
rendah terhadap Indonesia yang nantinya akan merugikan perekonomian Indonesia.
Di tengah virus Corona ini dikhawatirkan bahwa
akan berdampak pada kedua negara ini terkait hubungan ekspor-impor yang
sudah lama dijalani yang kita ketahui hubungan dagang Indonesia masih defisit
miliaran dollar sehingga mempengaruhi nilai kurs rupiah berfluktuasi terhadap
dollar Amerika di pasar uang, sampai saat ini diketahui nilai rupiah menginjak
16.270 dikarenakan para penanam saham mulai menghentikan investasi nya ke
Indonesia terkait Indonesia lemah dalam menangani virus ini. Namun Indonesia
optimis masih melihat dampak positif nya adalah nilai tukar mata uang yang
dimana dianggap masih berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi ini.
Pemerintah
Indonesia menghentikan impor produk dari Tiongkok seiring wabah Virus Corona. Akan
tetapi, sejauh ini kegiatan ekspor - impor masih berjalan normal terkait
ekspor-impor. Penghentian impor sementara dari Tiongkok terkait Virus Corona memberikan kekhawatiran banyak pihak.
Spekulasi muncul jika kebijakan ini bisa mendorong kenaikan harga produk di
pasar lokal mengingat ketersediaan barang yang berkurang. Pemerintah Indonesia
memperketat jalurnya impor produk pertanian dari Tiongkok. Seperti wacana
larangan impor produk hewan hidup, produk pangan dan larangan warga negara
Tiongkok masuk dan transit ke Indonesia. Jelas saja pemerintah Indonesia
dianggap over react terhadap ekspor - impor barang ini sejatinya yang
kita ketahui masih belum ada penjelasan menyebarnya virus Corona melalui barang
impor. WHO sendiri berkata sangat keberatan apabila Tiongkok melakukan
perbatasan perdagangan. Apabila Indonesia melakukan dan mengambil tindakan
tersebut akan mendapatkan dampak negatif dan Pemerintah Tiongkok sangat
menyayangkan antisipasi – antisipasi yang dilakukan oleh Pemerintahan ndonesia.
Akan
tetapi disisi lain Pemerintah Indonesia berkata antsipasi yang dilakukan adalah
untuk kepentingan nasional. Walaupun dapat dikatakan sebagai kesempatan bagi
negeri kita untuk menggenjot kinerja ekspor kita bagaimana cara kita
meningkatkan berbagai produksi dalam negeri untuk menggantikan apa saja yang
selama ini kita impor dari Tiongok dan tentu saja itu bukanlah hal yang mudah
dan seperti yang kita ketahui negeri kita sudah sangat lama bergantung kepada
negara Tiongkok ini seperti tidak bisa lepas dengan negara ini, yang
dikhawatirkan akan hal ini adalah apakah bisa dilakukan untuk berberapa
komoditas lainnya.
Di
kondisi lain kita juga harus memperhatikan berbagai eksportir dan
pengusaha-pengusaha kita untuk membangun komunikasi dengan partner-partner yang
terkait sebelumnya mereka memasok berbagai produksi ke Indonesia akan tetapi
apabila dilakukan pembatasan-pembatasan ini apakah negara ini bisa memenuhi
keinginan konsumen kita yang ada di Indonesia ini kalau misalnya terkait hal
pangan saya rasa Indonesia sudah cukup kaya kan hal itu tetapi kalo hal seperti
teknologi dan lain apakah mampu kita memenuhi permintaan tersebut dan pastinya
akan merugikan berbagai sudut pihak yang terkait akan hal ini.
Dari segi masyarakat bisa kita lihat
akan menimbulkan berbagai dampak apabila pembatasan ini dilakukan yang sangat
berpengaruh sekali terhadap eskpor dan impor ke Tiongkok ini karena kita sangat
tergantung kepada negeri ini dari segi ekspor seperti batu bara dan minyak gas
diperkirakan efeknya terhadap penciptaan lapangan pekerjaan rakyat menengah
kebawah mungkin tidak terlalu besar tetapi yang memiliki pengaruh besar adalah
komoditas kelapa sawit yang dimana banyak petani sekitar empat ribu akan
kesulitan akan hal ini. Dari segi impor seperti yang saya katakan diawal masih
minimal dampak yang ditimbulkan sejauh ini Indonesia hanya melarang hewan hidup
saja dalam artian bukan hewan yang sehari-harinya kita konsumsi melainkan hewan
lainnya dan pengaruh nya sangat kecil bagi Indonesia akan tetapi yang menjadi
garis besar yaitu terhadap bahan baku yang kita ketahui bahan baku yang dari
Tiongkok lah yang membantu kita sebagian besar menimbang harganya yang masih relatif
terjangkau.
Yang dapat dilakukan pemerintah
Indonesia saat ini terkait hubungan ekonomi dengan Tiongkok adalah memanfaatkan
ceruk pasar ekspor di negara lain yang sebelumnya mengimpor produk RRT yaitu RRT
sendiri tujuannya adalah untuk memobilisasi apabila ingin mencapai tujuan tertentu.
Dan selanjutnya belum ada kejelasan dari WHO terkait bagaimana cara virus
menyebar dan bisa melewati apa saja ini yang diharapkan Indonesia terkait
kejelasan oleh WHO tersebut. Negeri kita juga menimbang bagaimana kasus SARS
dulu yang dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia sejauh mana dan penurunan
nya seberapa disini lah Indonesia perlu waspada terkait hal ini.
Dalam sektor Pariwisata Indonesia
tentu saja ini menjadikan suatu masalah yang dari awal dikatakan bahwa sektor
pariwisata ini sebagai salah satu pertumbuhan ekonomi di Indonesia dalam artian
yang kita andalkan demi ekonomi Indonesia maju dan di targetkan di akhir 2020
akan selesai dan akan melakukan promosi – promosi menimbang suatu pandemi
global yang belum selesai Indonesia hanya bisa pasrah dan menunggu pandemi
global ini selesai dan stabil kembali. Yang di harapkan berbagai pihak agar
pemerintah Indonesia bersikap bijak dengan kebijakan – kebijakan yang di
putuskan serta jangan gegabah kita tahu bahwa masih banyak kepentingan –
kepentingan yang masih diperlukan serta kerja sama yang baik oleh kedua negara
ini walaupun ada pandemi global yang menyerang dan diharapkan di tengah pandemi
global ini Indonesia dapat menstabilkan kembali perekonomian yang ada di
Indonesia.