Thursday, May 14, 2020

Hubungan Internasional Dalam Sektor Ekonomi: Indonesia-Tiongkok Dalam Kegiatan Ekspor-Impor di Tengah Pandemi Global Covid-19

     
foto: from google

Merebaknya virus Corona saat ini menjadi suatu Perhatian Global di seluruh belahan dunia ini. Hampir seluruh dunia kena wabah Corona ini yang tentu saja merugikan negara lain berbagai sektor di dalam suatu negara tersebut salah satunya ialah sektor perekonomian sehingga menimbulkan dampak masalah ekonomi yang jelas saja merugikan negara contohnya negaara Indonesia ini terkait naik nya kurs mata uang rupiah terhadap dollar dan salah satunya contoh lainnya adalah pembatasan Ekspor-Impor yang dilakukan oleh Indonesia dan Tiongkok.
Indonesia bisa dikatakan tergantung dan mempunyai nilai kepentingan pada Tiongkok karena nilai impor negara Indonesia hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan ekspor ke negara Tiongkok. Tiongkok bisa dikatakan mitra dagang utama baik teknologi maupun bahan pangan bagi Indonesia. Seperti yang kita ketahui di tengah masalah virus Corona yang sudah masuk ke Indonesia tentu saja ada perubahan serta dampak ekonomi yang ditimbulkan antara Indonesia dan Tiongkok ini. Dampak yang ditimbulkan masih tergolong minimal akan tetapi yang menjadi sorotan dan perubahan yang drastis ialah sistem pariwisata Indonesia yang menyangkut pergerakan orang dengan kata lain manusia lah yang membawa wabah virus Corona ini, yang seperti kita ketahui bahwa Tiongkok ini merupakan salah satu penyumbang terbesar wisatawan ke Indonesia dan turis negara lain yang sudah terpapar virus Corona ini dan menjadi turis langganan bagi Indonesia yang pastinya sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia terhadap berberapa sektor yang salah satunya adalah sektor pariwisata.
Kita tahu bahwa virus Corona ini sangat mempengaruhi perekonomian Tiongkok dan Indonesia dari berbagai sektor serta hubungan-hubungan perdagangan yang sudah terjalin sangat lama dapat menimbulkan penghentian kerja sama perdagangan. Melemahnya perekonomiaan Tiongkok saat ini di khawatirkan permintaan ekspor rendah terhadap Indonesia yang nantinya akan merugikan perekonomian Indonesia. Di tengah virus Corona ini dikhawatirkan bahwa  akan berdampak pada kedua negara ini terkait hubungan ekspor-impor yang sudah lama dijalani yang kita ketahui hubungan dagang Indonesia masih defisit miliaran dollar sehingga mempengaruhi nilai kurs rupiah berfluktuasi terhadap dollar Amerika di pasar uang, sampai saat ini diketahui nilai rupiah menginjak 16.270 dikarenakan para penanam saham mulai menghentikan investasi nya ke Indonesia terkait Indonesia lemah dalam menangani virus ini. Namun Indonesia optimis masih melihat dampak positif nya adalah nilai tukar mata uang yang dimana dianggap masih berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi ini.
Pemerintah Indonesia menghentikan impor produk dari Tiongkok seiring wabah Virus Corona. Akan tetapi, sejauh ini kegiatan ekspor - impor masih berjalan normal terkait ekspor-impor. Penghentian impor sementara dari Tiongkok terkait Virus Corona memberikan kekhawatiran banyak pihak. Spekulasi muncul jika kebijakan ini bisa mendorong kenaikan harga produk di pasar lokal mengingat ketersediaan barang yang berkurang. Pemerintah Indonesia memperketat jalurnya impor produk pertanian dari Tiongkok. Seperti wacana larangan impor produk hewan hidup, produk pangan dan larangan warga negara Tiongkok masuk dan transit ke Indonesia. Jelas saja pemerintah Indonesia dianggap over react terhadap ekspor - impor barang ini sejatinya yang kita ketahui masih belum ada penjelasan menyebarnya virus Corona melalui barang impor. WHO sendiri berkata sangat keberatan apabila Tiongkok melakukan perbatasan perdagangan. Apabila Indonesia melakukan dan mengambil tindakan tersebut akan mendapatkan dampak negatif dan Pemerintah Tiongkok sangat menyayangkan antisipasi – antisipasi yang dilakukan oleh Pemerintahan ndonesia.
Akan tetapi disisi lain Pemerintah Indonesia berkata antsipasi yang dilakukan adalah untuk kepentingan nasional. Walaupun dapat dikatakan sebagai kesempatan bagi negeri kita untuk menggenjot kinerja ekspor kita bagaimana cara kita meningkatkan berbagai produksi dalam negeri untuk menggantikan apa saja yang selama ini kita impor dari Tiongok dan tentu saja itu bukanlah hal yang mudah dan seperti yang kita ketahui negeri kita sudah sangat lama bergantung kepada negara Tiongkok ini seperti tidak bisa lepas dengan negara ini, yang dikhawatirkan akan hal ini adalah apakah bisa dilakukan untuk berberapa komoditas lainnya.
Di kondisi lain kita juga harus memperhatikan berbagai eksportir dan pengusaha-pengusaha kita untuk membangun komunikasi dengan partner-partner yang terkait sebelumnya mereka memasok berbagai produksi ke Indonesia akan tetapi apabila dilakukan pembatasan-pembatasan ini apakah negara ini bisa memenuhi keinginan konsumen kita yang ada di Indonesia ini kalau misalnya terkait hal pangan saya rasa Indonesia sudah cukup kaya kan hal itu tetapi kalo hal seperti teknologi dan lain apakah mampu kita memenuhi permintaan tersebut dan pastinya akan merugikan berbagai sudut pihak yang terkait akan hal ini.
            Dari segi masyarakat bisa kita lihat akan menimbulkan berbagai dampak apabila pembatasan ini dilakukan yang sangat berpengaruh sekali terhadap eskpor dan impor ke Tiongkok ini karena kita sangat tergantung kepada negeri ini dari segi ekspor seperti batu bara dan minyak gas diperkirakan efeknya terhadap penciptaan lapangan pekerjaan rakyat menengah kebawah mungkin tidak terlalu besar tetapi yang memiliki pengaruh besar adalah komoditas kelapa sawit yang dimana banyak petani sekitar empat ribu akan kesulitan akan hal ini. Dari segi impor seperti yang saya katakan diawal masih minimal dampak yang ditimbulkan sejauh ini Indonesia hanya melarang hewan hidup saja dalam artian bukan hewan yang sehari-harinya kita konsumsi melainkan hewan lainnya dan pengaruh nya sangat kecil bagi Indonesia akan tetapi yang menjadi garis besar yaitu terhadap bahan baku yang kita ketahui bahan baku yang dari Tiongkok lah yang membantu kita sebagian besar menimbang harganya yang masih relatif terjangkau.
            Yang dapat dilakukan pemerintah Indonesia saat ini terkait hubungan ekonomi dengan Tiongkok adalah memanfaatkan ceruk pasar ekspor di negara lain yang sebelumnya mengimpor produk RRT yaitu RRT sendiri tujuannya adalah untuk memobilisasi apabila ingin mencapai tujuan tertentu. Dan selanjutnya belum ada kejelasan dari WHO terkait bagaimana cara virus menyebar dan bisa melewati apa saja ini yang diharapkan Indonesia terkait kejelasan oleh WHO tersebut. Negeri kita juga menimbang bagaimana kasus SARS dulu yang dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia sejauh mana dan penurunan nya seberapa disini lah Indonesia perlu waspada terkait hal ini.
            Dalam sektor Pariwisata Indonesia tentu saja ini menjadikan suatu masalah yang dari awal dikatakan bahwa sektor pariwisata ini sebagai salah satu pertumbuhan ekonomi di Indonesia dalam artian yang kita andalkan demi ekonomi Indonesia maju dan di targetkan di akhir 2020 akan selesai dan akan melakukan promosi – promosi menimbang suatu pandemi global yang belum selesai Indonesia hanya bisa pasrah dan menunggu pandemi global ini selesai dan stabil kembali. Yang di harapkan berbagai pihak agar pemerintah Indonesia bersikap bijak dengan kebijakan – kebijakan yang di putuskan serta jangan gegabah kita tahu bahwa masih banyak kepentingan – kepentingan yang masih diperlukan serta kerja sama yang baik oleh kedua negara ini walaupun ada pandemi global yang menyerang dan diharapkan di tengah pandemi global ini Indonesia dapat menstabilkan kembali perekonomian yang ada di Indonesia.